Selasa, 14 Agustus 2007

Fenomena Internet Media Baik atau Buruk ?

Tugas mata diklat Produktif Administrasi Perkantoran
Kompetensi: Penggandaan dan Pengumulan Dokumen



Internet dalam sebuah laporan penelitian (UCLA) tentang dampak bagi masyarakat, terbukti bahwa pengguna Internet mengurangi waktu aktifitas mereka yang lain untuk digunakan dalam mengakses Internet, dan bahkan dapat lebih buruk lagi dengan mengurangi hubungan dengan keluarga atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dengan keadaan sosiokultural masyarakat Indonesia, khususnya di kantung-kantung yang berpenghasilan menengah ke bawah, maka penggunaam internet masihlah barang mewah dan hanya beberapa orang saja yang memiliki akses ini.Dapat disimpulkan mereka tidak punya waktu yang disebut “surfing internet” , dan kemungkinan diganti dengan “media hiburan” yang terdapat tv salah satunya. Jika saja Internet dipaksa-kenalkan kepada mereka dan mereka diminta untuk menggunakan Internet dengan alasan yang beragam, entah dengan alasan mengurangi digital divide atau meningkatkan taraf hidup, maka “waktu” mana yang sekiranya akan diambil. Menonton TV tidaklah sebaik belajar, beribadah atau bekerja. Tapi apakah Internet sebaik belajar, beribadah atau bekerja.Bisa saja menggunakan Internet sebagai sebuah bentuk belajar, beribadah dan bekerja. Tetapi bukankah itu pemahaman yang dibentuk oleh masyarakat kota yang lebih paham tentang Internet. Bagaimana caranya bisa mengatakan Internet itu positif, yaitu dengan Internet diterjunkan ke tengah masyarakat umum dengan adanya panduan. Dengan demikian masyarakat bisa percaya kepada Internet ditengah-tengah kabar dan pemberitaan negatif mengenai Internet.

Muncul sebuah pertanyaan mengenai Internet yang dapat menjadi alat ekplorasi diri. Pertanyaan tersebut bukanlah tanpa alasan mengingat bahwa banyak situs yang menampilkan berbagai test EQ maupun IQ. Selain itu teknologi dunia maya ini memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri secara unik. Namun demikian para Psikolog berpendapat, kalau seseorang gagal mengintegrasikan antara diri sejati dengan diri yang diekspresikan secara berbeda di internet, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan pribadi orang tersebut.Mengenai dampak internet sebagai alat explorasi diri, para Psikolog memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya. Tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut. Pengaruh buruk akan terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk mengisolasi diri. Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya. Padahal, menurut para Psikolog, hal ini tidak benar dan tidak sehat. Mengapa demikian?Michelle Weil, seorang Psikolog dan pengarang buku terkenal, memberikan contoh konkrit tentang seorang gadis yang dijauhi oleh teman-temannya lalu kemudian menghabiskan waktu untuk mojok berchatting ria dengan menampilkan karakter yang sangat kontradiktif dengan karakter aslinya. Akibatnya, lama kelamaan ia semakin jauh dengan kenyataaan sosial yang ada, bahkan tidak bisa menerima diri apa adanya. Menurut pakar psikoanalisa terkenal seperti Erich Fromm, kondisi demikian dinamakan neurosis. Kondisi neurosis yang berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang serius. Michelle lebih lanjut menambahkan, bahaya latennya adalah terbentuknya kepribadian online yang berbeda dengan yang asli.

Dampak Hubungan antar individu
Ketika Internet telah menjadi kebutuhan pokok, salah satu perubahan besar yang terjadi adalah kesempatan individu untuk bertemu dengan individu yang lain secara fisik semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh fasilitas dari Internet yakni chat dan webcam, dapat mewakili pertemuan antar individu. Dengan kemudahan chat dan webcam, jarak jauh sudah tidak menjadi masalah. Bahkan individu yang aslinya berdekatan pun kadang lebih memilih menggunakan Internet untuk berkomunikasi.Fenomena yang terjadi saat ini adalah masyarakat yang kadang menggantungkan jasa Internet dalam mencari jodoh. Para pengguna Internet dapat mencari jodoh bisa tahu siapa pasangannya walau kadang bukti yang diberikan bisa saja palsu. Tidak sedikit memang yang berhasil mendapatkan jodoh melalui chat, webcam atau email. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang merasa diteror oleh chat atau webcam dari ID (sebuah alamat) yang tidak dikenal. Bahkan sering juga muncul chat yang menyesatkan, seperti informasi akan adanya gempa bumi, tsunami dan lain sebagainya.Namun demikian internet yang menyediakan situs-situs jodoh dan fasilitas chatting. Fasilitas-fasilitas internet memiliki banyak peminat. Dengan kemudahan tersebut pengguna bisa mendapatkan jodoh siapa dan dimana saja.Media yang lain juga tidak ketinggalan. Salah satunya televisi, saat ini banyak sekali tayangan televisi yang membantu pemirsanya dalam mendapatkan jodoh. Begitu mudah dan begitu dekat. Itulah kesan yang didapat dari perkembangan teknologi ini.

Dampak pada Hubungan Sosial
Berbicara tentang dampak social dari perkembangan telepon genggam, internet dan televisi, tidak bisa dipungkiri adanya perubahan social dalam masyarakat. dan perubahan tersebut cenderung menjadi budaya. Terlepas dari dampak positif atau negative, seluruh umat manusia turut merasakan. Tetapi timbul pertanyaan di benak kita, apakah pengguna telepon genggam, internet dan televisi bisa menghindari diri dari dampak negative ketiga teknologi tersebut. Hal ini dikarenakan kemampuan masyarakat dalam menyikapi teknologi tidak sama. Sikap masyarakat juga dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan masyarakat terhadap teknologi itu sendiri.Perkembangan teknologi komunikasi di masyarakat Indonesia saat ini cukup mengembirakan. Dimana masyarakat telah dapat mengikuti perkembangan budaya modern seperti telepon genggam, internet dan televisi. Selain itu juga, kontrol masyarakat pun tetap terjaga dengan adanya media televisi dan internet sebagai media informasi. Begitu juga dengan telepon genggam yang memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi.Yang menjadi masalah sekarang adalah apakah masyarakat dapat mengimbangi perkembangan teknologi tersebut dengan kemampuan menghindari diri dari dampak negatif. Kalau kita memperhatikan dari kasus-kasus banyaknya video mesum yang tersebar di telepon genggam dan internet, sepertinya belum. Masyarakat kita masih harus diingatkan bagaimana rekaman adegan seronok yang diambil dari kamera telepon genggam itu bisa tersebar luas, dan bagaimana kita tidak harus mengikuti acara kuis dari televisi yang banyak menghabiskan pulsa, dan bagaimana pun juga kita tidak harus berlama-lama berselancar di internet untuk mencari jodoh.Jalur pendidikan merupakan jalur yang ampuh untuk merealisasikan informasi tentang dampak negative dari perkembangan teknologi. Selain itu, mari kita saling mengingatkan bagaimana dampak negative perkembangan teknologi komunikasi dapat merusak budaya kita sebagai manusia.Tentu saja ada pengaruh positif dari penggunaan (bukan kecanduan) internet terhadap kepribadian seseorang. Reid Steere, seorang Sosiolog dari Los Angeles mengatakan, jika seseorang menggunakan internet sebagai media eksplorasi diri dengan kesadaran penuh, ia akan mengalami pertumbuhan sebagai hasil dari refleksi dirinya secara utuh melalui internet.Berangkat dari kondisi di atas, maka keadaan di Indonesia dapat disingkat sebagai berikut:
Pengambil keputusan di rumah tangga akan melarang anaknya mengakses Internet. Ini berarti berkurangnya potensi pengguna Internet dari rumah-rumah. Ini berkaitan langsung dengan pangsa pasar ISP
Anak-anak yang dilarang akan semakin penasaran dan semakin tertanam dalam pikirannya bahwa Internet itu pornografi, atau pornografi bisa didapat di Internet. Maka dia akan menyisihkan waktu dan uangnya untuk mencari pornografi di Internet, melalui warnet
Warnet akhirnya dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai tempat mengakses pornografi dengan tarif yang murah. Semakin banyak warnet di daerah-daerah dan semakin murah biaya sewanya, maka akan semakin besar pula potensi penyebaran pornografi dan hal-hal negatif lainnya hingga ke pelosok daerah. Hal tersebut menjelaskan pula mengapa terjadi kejadian sweeping warnet oleh masyarakat umum ketika bulan puasa dan datangnya polisi ke warnet untuk memperingati pemiliknya agar tidak menerima siswa berpakaian sekolah.
Akhirnya, Internet dikuatirkan bisa menjadi benar-benar tempat yang tabu dikunjungi oleh sebagian masyarakat. Bisnis warnet pun terancam. Jumlah pengakses Internet tidak akan bertambah, kalaupun bertambah hanyalah dari sisi kuantitas, tetapi tidak secara kualitas.

1 komentar:

Admin mengatakan...

ok deh